Senin, 10 Oktober 2011

#DDP : Percakapan Celana Baru

Aku akan menceritakan sesuatu yang paling menarik mulai dari duduk di ruang kelas perkuliahan dasar-dasar penulisan sampai keluar menuju parkiran untuk pulang. Tulisan ini kubuat karena ada tugas dari mata kuliah tersebut. Hal paling menarik kujumpai bukan terjadi di luar ruang kelas, tetapi malah ada di dalam kelas.

Simak baik-baik ceritanya.

Saat mengikuti kuliah aku duduk di depan kelas bersama angkatanku. Sebenarnya kami tergolong angkatan tua yang seperti biasa mencari duduk di belakang.

Yup, benar sekali… kami mengulang.

Karena telat, kursi belakang sudah penuh dan yang tersisa hanyalah sebaris kursi paling depan. Terpaksalah kami duduk di depan. Kami menjadi orang-orang terdepan saat itu. Dengan kharisma angkatan tua di kelas itu, jadilah kami public figure. Sekelompok role models teladan, pusat kehidupan dunia. L

Itu tadi hanyalah perkenalan, bukan cerita menariknya. Di bawah inilah, bagian yang paling menarik kujumpai saat itu. Sebuah percakapan yang lumayan mencengangkan dimana percakapan tersebut dapat membuat perubahan dunia.

Aku duduk di samping temanku yang berjenis kelamin wanita bernama Mitun. Kata orang-orang dia agak blo’on. Aku berteman dengannya selama kuliah hamper enam setengah semester ini dan yang dapat kusimpulkan ternyata dia memang blo’on. Tapi kurasa dia sudah berubah akhir-akhir ini.

Setelah terlibat pembicaraan macam-macam yang menyangkut kuliah dan di luar kuliah, sampailah kami pada percakapan berikut.

“Prut, celanamu kok sobek sih?” , kata mitun.

Aku memakai Celana favoritku. Jeans berwarna biru langit yang memang sobek. Sobeknya karena ketidaksengajaan dan aku menyayangkan hal itu karena itu adalah celana kebesaranku, celana sakralku, kebanggan setiap pria di muka bumi ini.

Aku menjawab pertanyaannya dengan sekenanya,”Iya, sobek nih..”.

“Aku juga punya celana sobek seperti itu, tapi nggak pernah tak pake”, lanjut mitun menimpali jawabanku tadi.

“Loh, kok gak pernah dipake sih? Sini tak pakenya aja”, sebuah tawaran yang menarik dariku.

“Ya udah, gak papa”. Jawab mitun yang membuat hatiku senang.

Ada sedikit yang mengganjal di pikiranku.. ukuran celananya!

aku kembali menanyakan,”Ukurannya seberapa?”,

“Ya, segini”, jawab mitun sambil menunjukkan kakinya yang kecil itu dengan celana ketatnya.

Aku membayangkan memakai celana itu dan pergi ke kampus, maka aku layak dipanggil Rockstar nyasar.

“Yah, kok kecil banget.. ada yang lebih gede gak?”, tanyaku lagi.

“aduh gak ada, prut”, Mitun menjawab dengan mengerutkan dahinya seolah-olah di dalam hatinya ngomong ‘ Nih orang dikasih aja pake nawar-nawar’. Dia berpikir sejenak, kemudian berbicara kepadaku lagi. “Prut, pake celana almarhum adikku aja gimana? Ukurannya pas kok buat kamu, Cuma dia agak tinggi.”, akhirnya setelah penantianku ada juga celana yang pas.

“Iya, aku mau. Celananya dimana? Di kos?”, jawabku sambil bertanya lagi, “ Enggak, di padang,”, jawab Mitun yang memang orang asli padang.

“Ya udah, besok kalo kamu pulang kampung kirimin pakaiannya ya.” Itulah jawaban yang keluar dari mulutku. Dia pun berkata, “Ya.”

Setelah itu aku berpikir sejenak. Mungkin aku dapat keuntungan dari pembicaraan ini, tetapi nilai moral yang terkandung di dalamnya nol besar. Bukannya aku sok alim atau gimana, tetapi memakai pakaian dari adik teman yang sudah meninggal… huuhh, aku tak bisa menjabarkan dan membayangkannya saat itu.

Tetapi, barusan aku membayangkan memakainya dan bertemu teman-teman di kampus yang bertanya,”Prut, celanamu bagus”, kemudian aku menjawab dengan santainya, “Iya nih, celana almarhum adiknya mitun”. Mungkin teman-temanku yang bertanya tadi akan shock mendengar jawabanku tadi. Belum lagi kalau si Mitun yang sebenarnya baik namun blo’on itu cerita ke orang-orang. Mereka akan menilai diriku orang ganteng yang meskipun pintar, cerdas, bertanggung jawab, suka menolong, rajin menyiram bunga, dan rajin memasak mie itu ternyata mempunyai sisi lain yaitu bejat yang tak ketolongan, tidak pantas dijadikan teman, tak bermoral, dan harus mengulang mata kuliah agama, kewarganegaraan, juga pancasila. Meskipun semester kemarin aku mengulang satu dari tiga mata kuliah tersebut.

Aku akan berbicara dengan Mitun lagi dan membatalkannya, apabila nanti bertemu dengannya. Senang bisa berbagi cerita.

Bon Voyage

3 komentar: